ONTOLOGI
ILMU
A. PENDAHULUAN
Ontologi
ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang
inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat
tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham
monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dualisme,
pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada
akhimya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing masing mengenai apa
dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
Obyek
penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca
indera manusia, seperti batua-batuan, binatang, tumbuhan, atau manusia itu
sendiri; berbagai gejala dan peristiwa yang mempunyai manfaat bagi kehidupan
manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai
suatu pengetahuan empiris. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni
orientasi terhadap dunia empiris. Pengetahuan keilmuan mengenai obyek-obyek
empiris ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan.
Penyederhanaan ini perlu, sebab kejadian alam yang sesungguhnya begitu
kompleks, dengan sampel dari berbagai faktor yang terlibat di dalamnya. Ilmu
tidak bermaksud “memotret” atau “memproduksikan” suatu kejadian tertentu dan
mengabstraksikan dalam bahasa keilmua. Ontologi merupakan salah satu kajian
kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas
keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan
yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada
masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan.
Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh
tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris.
Ontologi
merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang menetapkan batas
lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada (Being), baik berupa wujud
fisik (al-Thobi’ah) maupun metafisik (ma ba’da al-Thobi’ah) selain itu Ontologi
merupakan hakikat ilmu itu sendiri dan apa hakikat kebenaran serta kenyataan
yang inheren dengan pengetahuan ilmiah tidak terlepas dari persepektif filsafat
tentang apa yang dikaji atau hakikat realitas yang ada yang memiliki sifat
universal.
B. STANDAR
KOMPETENSI
Setelah mempelajari bagian ini,
mahasiswa di harapkan mampu memahami tentang Aksiologi Ilmu
C. KOMPETENSI
DASAR
·
Kemampuan untuk
memahami pengertian ontologi
·
Kemampuan untuk
memahami asumsi-asumsi ilmu
·
Kemampuan untuk
mengetahui apa saja yang terdapat dalam objek formal
·
Kemampun untuk
mengetahui metode-metode dalam ontology
·
Kemampuan untuk
memahami konsep ontologi dalam filsafat
D. TUJUAN
PEMBELAJARAN
Adapun
tujuan pembelajaran pada bagian ini adalah :
·
Mahasiswa mampu
untuk mengetahui pengertian ontology
·
Mahasiswa mampu
menjelaskan asumsi-asumsi ilmu
·
Mahasiswa mampu
mendeskripsikan apa saja yang terdapat dalam objek formal
·
Mahasiswa mampu
menjelaskan metode-metode dalam ontology
·
Mahasiswa mampu mengembangkan
konsep ontology dalam filsafat
E. URAIAN
MATERI
1. PENGERTIAN ONTOLOGI
Ontologi
dalam bahasa Inggris “ontology”; dari bahasa Yunani on, ontos (ada, keberadaan)
dan logos (studi, ilmu tentang). Ada beberapa pengertian dasar mengenai apa itu
“ontologi”. Pertama, ontologi merupakan studi tentang ciri-ciri “esensial” dari
Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada
secara khusus. Dalam mempelajari ‘yang ada’ dalam bentuknya yang sangat abstrak
studi tersebut melontarkan pertanyaan seperti “Apa itu Ada dalam dirinya
sendiri?”
Kedua,
ontologi juga bisa mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti
tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan
katagori-katagori seperti : ada/menjadi, aktualitas/potensialitas, esensi,
keniscayaan dasar, yang ada sebagai yang ada. Ketiga, ontologi bisa juga
merupakan cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat Ada yang terakhir,
ini menunjukan bahwa segala hal tergantung padanya bagii eksistensinya.
Keempat, Ontologi juga mengandung pengertian sebagai cabang filsafat yang
melontarkan pertanyaan, apa arti Ada dan Berada dan juga menganalisis
bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat dikatakan Ada.Kelima,
Ontologi bisa juga mengandung pengertian sebuah cabang filsafat a) menyelidiki
status realitas suatu hal misalnya “apakah objek pencerapan atau persepsi kita
nyata atau bersifat ilusif (menipu)? “apakah bilangan itu nyata?” “apakah
pikiran itu nyata?” b) menyelidiki apakah jenis realitas yang dimiliki hal-hal
(misalnya, “Apa jenis realitas yang dimiliki bilangan? Persepsi? Pikiran “ dan
c) yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut realitas. Dari
beberapa pengertian dasar tersebut bisa disimpulkan bahwa ontologi mengandung
pengertian “pengetahuan tentang yang ada”.
Istilah
ontologi muncul sekitar pertengahan abad ke-17. Pada waktu itu ungkapan
filsafat mengenai yang ada (philosophia entis) digunakan untuk hall yang sama.
Menurut akar kata Yunani, ontologi berarti ‘teori mengenai ada yang berada’.
Oleh sebab itu, orang bisa menggunakan ontologi dengan filsafat pertama
Aristoteles, yang kemudian disebut sebagai metafisika. Namun pada kenyataannya,
ontologi hanya merupakan bagian pertama metafisika, yakni teori mengenai yang
ada, yang berada secara terbatas sebagaimana adanya dan apa yang secara hakiki
dan secara langsung termasuk ada tersebut.
Beberapa
ahli filsafat memang banyak hal mempunyai pengertian yang berbeda satu sama
lain. Namun jika ditarik dalam garis benang yang saling berkaitan maka ada
beberapa hubungan yang hampir sama bahwa ontologi adalah ilmu tentang yang ada
sebagai bagian cabang filsafat yang sama. Baumgarten mendefinisikan ontologi
sebagai studi tentang predikat-predikat yang paling umum atau abstrak dari
semua hal pada umumnya. Ia sering menggunakan istilah “metafisika universal”
dan ”filsafat pertama” sebagai sinonim ontologi. Heidegger memahami ontologi
sebagai analisis konstitusi “ yang ada dari eksistensi”, ontologi menemukan
keterbatasan eksistensi, dan bertujuan menemukan apa yang memungkinkan
eksistensi.
Ontologi
merupakan ‘ilmu pengetahuan’ yang paling universal dan paling menyeluruh.
Penyelidikannya meliputi segala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih
bersifat ‘bagian’. Ia merupakan konteks untuk semua konteks lainnya, cakrawala
yang merangkum semua cakrawala lainnya, pendirian yang meliputi segala
pendirian lainnya. Sebagai tugasnya memang ‘ontologi’ selalu mengajukan
pertanyaan tentang bagaimana proses ‘mengada’ ini muncul. Pertanyaannya selalu
berangkat dari situasi kongkrit. Dengan demikian ontologi menanyakan sesuatu
yang tidakserba tidak terkenal. Andaikata memang sesuatu tidak terkenal maka
mustahil pernah akan dapat ditanyakan. Dalam ruang kerjanya ‘ontologi’ bergerak
di antara dua kutub, yaitu antara pengalaman akan kenyataan kongkrit dan
prapengertian ‘mengada’ yang paling umum. Dalam refleksi ontologis kedua kutub
ini saling menjelaskan. Pengalaman tentang kenyataan akan semakin disadari
dieksplisitkan arti dan hakikat ‘mengada’. Sebaliknya juga, prapemahaman
tentang cakrawala ‘mengada’ akan semakin menyoroti pengalaman kongkrit dan
membuatnya terpahami sungguh-sungguh.
2. ASUMSI-ASUMSI
ILMU
Objek
telah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi
filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi
banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan
tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan
pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam
setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang
meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
3. OBJEK
FORMAL
Objek
formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif,
realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi
kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme,
naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira
cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan.
Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan
pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para
ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme,
tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.
4. METODE
DALAM ONTOLOGI
Lorens
Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi
fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan
keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk
mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis.
Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua
realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan
metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua,
yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Pembuktian a priori
disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan
pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Sedangkan
pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas
kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam
kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata
silogistik.
Bandingkan
tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di
berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj
menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di
berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi
akibat dari realitas dalam kesimpulan. Ontologi menurut Anton Bakker (1992)
merupakan ilmu pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh.
Penyelidikannya meliputi gejala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih
bersifat bagian. Ontologi berusaha memahami keseluruhan kenyataan, segala
sesuatu yang mengada segenapnya. Ontologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis
mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu.
Secara
ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang
berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Dalam kaitannya dengan kaidah moral
atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan
keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia,
merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan. Hakekat kenyataan atau
realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1)
Kuantitatif, yaitu
dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2)
Kualitatif, yaitu
dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas
tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang
berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang
mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam
bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
3)
Batas-batas
Penjelajahan Ilmu Dasar ontologi ilmu sebenarnya ingin berbicara pada sebuah
pertanyaan dasar yaitu : apakah yang ingin diketahui ilmu ? Atau bisa
dirumuskan secara eksplisit menjadi : apakah yang menjadi bidang telaah ilmu ?
Berbeda dengan agama atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi
diri hanya kepada bkejadian yang bersifat empiris.
Secara sederhana objek kajian ilmu ada dalam
jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek
kehidupan yang dapat diuji oleh pacaindera manusia. Dalam batas-batas tersebut
maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan, binatang,
tumbuh-tumbuhan , hewan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu maka ilmu
ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang
berbeda di luar jangkaun manusia tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan
tersebut.
Untuk
mendapatkan pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek-objek
empiris. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima
asumsi yang dikemukakannya. Secara lebih terperinsi ilmu mempunyai tiga asumsi
yang dasar. Asumsi pertama, menganggap objek-objek tertentu mempunyai
keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan
sebagainya. Asumsi kedua, ilmu menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami
perubahan dalam jangka waktu tertentu . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari
tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu. Asumsi
ketiga, ilmu menganggap bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang
bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu
yang bersifat tetap dengan urutan kejadian yang sama. Dalam penegartian ini
ilmu mempunyai sifat deterministik. Namunpun demikian dalam determinisme dalam
pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik). Karakteristik
FilsafatIlmu sebagai salah satu bidang dalam filsafat, di abad modern ini
memang mendapat tempat dan porsi terbesar, Perkembangan ilmu saat ini banyak
mendorong terjadinya perubahan-perubahan peradaban, Abad modern memang sangat
didorong oleh kemunculan rasionalitas ilmu sebagai dasar dominan rasionalitas
modern. Ilmu sebagai sebuah konsep memang mengandung pengertian yang cukup
komplek. Ilmu dalam bahasa inggris ‘science’, dari bahasa Latin ‘scientia’
(pengetahuan). Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah ‘
episteme’. Pada prinsipnya ‘ilmu’ merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai
ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara
ilmu sosial dan ilmu alam , karena permasalahan-permasalahan teknis yang
bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi ‘filsafat ilmu alam’
dan filsafat ilmu sosial’.
Karakteristik
ilmu yang paling kentara adalah bahwa cara kerjanya ditentukan oleh sebuah
metode. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana
tertentu. Tekanan ilmu terletak pada bagaimana sebuah metode dibangun. Ilmu
yang dalam perkembangannya memakai metode ilmiah di dalam hukum-hukumnya
mempunyai bahasa-bahasa ilmiah yang berbeda dengan bahasa keseharian yang lain.
Karakteristik yang nampak dalam bahasa ini adalah bahwa bahasa ilmiah selalu
menekankan unsur “bebas nilai”. Karakteristik yang kedua adalah bahwa bahasa
ilmu sifatnya tertutup dan memakai cara kerja sistem sendiri. Ada banyak model
dan cara kerja ilmu yagn berkembang sesuai dengan perkembangan filsafat
manusia. Jika kita lihat di sana akan ditemukan pengertian-pengertian
Rasionalisme, Empirisme, Positivisme, Rasionalitas Kritis, Konstruktivisme.
Masing-masing mempunyai metodologi yang khas tetapi masih dalam kesatuan ciri
khas kerja sebuah ilmu. Filsafat ilmu pada prinsipnya bertugas meneliti dan
menggali sebab-musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan, di antaranya paham
tentang kepastian, kebenaran dan objektivitas. Cara kerja filsafat ilmu
pengetahuan pada prinsipnya adalah sebuah penelitian tentang apa yang
memungkinkan ilmu-ilmu tersebut terjadi dan berkembang.
Batas-batas
Kerja Ilmu Jika kita mempertanyakan apa batas kerja ilmu atau batas
penjelajahan ilmu maka bisa dijelaskan bahwa ilmu memulai penjelajahannya pada
pengalaman manusia dan dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak
mempelajari sesuatu yang bukan dari pengalaman manusia, maka ilmu tidak bekerja
di luar batas kerjanya seperti keyakinan surga dan neraka. Pada prinsipnya ilmu
sendiri dalam kehidupan manusia sebagai alat pembantu untuk bisa membongkar
berbagai problem manusia dalam batas pengalamannya Ilmu membatasi lingkup
penjelajahan pada batas pengalaman manusia. Metode yang dipergunakan dalam
menyusun ilmu telah teruji kebenarannya secara empiris. Dalam perkembangannya
kemudian maka muncul banyak cabang ilmu yang diakibatkan karena proses kemajuan
dan penjelajahan ilmu yang tidak pernah berhenti. Dari sinilah kemudian lahir
konsep “kemajuan” dan “modernisme” sebagai anak kandung dari cara kerja
berpikir keilmuan.
Ahli
ontologi menggunakan beberapa pertanyaan mendasar tentang keberadaan sesuatu
dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang paling ideal. Pertanyaan-pertanyaan
utama dalam ontologi adalah:
·
Atas dasar apakah
”sesuatu” itu dikatakan sebagai ”ada”?
·
Jika ”sesuatu” itu
dikatakan ”ada”, bagaimana cara mengelompokkannya?
Kedua
pertanyaan tersebut telah mendorong dilakukannya upaya untuk membagi
entitas-entitas yang melekat pada ”sesuatu” menjadi kelompok atau kategori.
Karena jumlah entitas sangat banyak, maka daftar kategori yang dibuat juga
beragam. Untuk mempermudah kita menemukan kategori yang diinginkan,
kategori-kategori yang ada disusun dan dihubungkan dalam bentuk skema. Aplikasi
dari kategorisasi entitas dapat dilihat dalam ilmu perpustakaan dan IT. Pengembangan dari dua
pertanyaan mendasar dalam ontologi telah mendorong ahli filsafat untuk berpikir
lebih keras dan memacu perkembangan ontologi dan aplikasinya dalam berbagai
bidang. Berikut ini adalah beberapa contoh pertanyaan dalam ontologi:
v Apa
yang dimaksud dengan ”ada”?
v Apakah
”ada” memiliki sesuatu atau properti?
v Jika
”sesuatu” tersusun atas entitas, maka entitas manakah yang fundamental?
v Bagaimana
properti dari sebuah obyek dapat berhubungan dengan obyek tersebut?
v Apa
ciri yang paling penting dari sebuah obyek?
v Jika
”ada” memiliki tingkatan (level), berapa jumlah level yang dimiliki oleh sebuah
”ada”?
v Apa
yang dimaksud dengan obyek fisik?
v Apakah
bukti yang dapat menyatakan bahwa suatu obyek fisik itu dikatakan sebagai
”ada”?
v Apakah
bukti yang dapat menyatakan bahwa suatu obyek fisik memiliki entitas atau unsur
non-fisik?
5.
Konsep
ontology
Konsep-konsep
yang berkembang dalam ontologi dapat dirangkum menjadi 5 konsep utama, yaitu:
a.
Umum dan tertentu
b.
Kesengajaan (substance) dan ketidaksengajaan (accident)
c.
Abstrak dan kongkrit
d.
Esensi dan eksistensi
e.
Determinisme dan indeterminisme
1)
Umum
(universal) dan Tertentu (particular)
Umum
(universal) adalah sesuatu yang pada umumnya dimiliki oleh sesuatu, misalnya:
karakteristik dan kualitas. “Umum” dapat dipisahkan atau disederhanakan melalui
cara-cara tertentu. Sebagai contoh, ada dua buah kursi yang masing-masing
berwarna hijau, maka kedua kursi ini berbagi kualitas ”berwarna hijau” atau
”menjadi hijau”. Tertentu (particular) adalah entitas nyata yang terdapat pada
ruang dan waktu. Contohnya, Socrates (guru dari Plato) adalah tertentu
(particular), seseorang tidak dapat membuat tiruan atau kloning dari Socrates
tanpa menambahkan sesuatu yang baru pada tiruannya.
2)
Substansi
(substance) dan Ikutan (accident)
Substansi
adalah petunjuk yang dapat menggambarkan sebuah obyek, atau properti yang
melekat secara tetap pada sebuah obyek. Jika tanpa properti tersebut, maka
obyek tidak ada lagi. Ikutan (accident) dalam filsafat adalah atribut yang
mungkin atau tidak mungkin dimiliki oleh sebuah obyek. Menurut Aristoteles,
”ikutan” adalah kualitas yang dapat digambarkan dari sebuah obyek. Misalnya:
warna, tekstur, ukuran, bentuk dsb.
3)
Abstrak
dan Kongkrit
Abstrak
adalah obyek yang ”tidak ada” dalam ruang dan waktu tertentu, tetapi ”ada” pada
sesuatu yang tertentu, contohnya: ide, permainan tenis (permainan adalah
abstrak, sedang pemain tenis adalah kongkrit). Kongkrit adalah obyek
yang ”ada” pada ruang tertentu dan mempunyai orientasi untuk waktu tertentu.
Misalnya: awan, badan manusia.
4)
Esensi
dan eksistensi
Esensi
adalah adalah atribut atau beberapa atribut yang menjadi dasar keberadaan
sebuah obyek. Atribut tersebut merupakan penguat dari obyek, jika atribut
hilang maka obyek akan kehilangan identitas. Eksistensi (existere: tampak,
muncul. Bahasa Latin) adalah kenyataan akan adanya suatu obyek yang dapat
dirasakan oleh indera.
5)
Determinisme
dan indeterminisme
Determinisme
adalah pandangan bahwa setiap kejadian (termasuk perilaku manusia, pengambilan
keputusan dan tindakan) adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
rangkaian kejadian-kejadian sebelumnya. Indeterminisme merupakan perlawanan
terhadap determinisme. Para penganut indeterinisme mengatakan bahwa tidak semua
kejadian merupakan rangkaian dari kejadian masa lalu, tetapi ada faktor
kesempatan (chance) dan kegigihan (necessity). Kesempatan (chance) merupakan
faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan, sedangkan kegigihan
(necessity) dapat membuat sesuatu itu akan berubah atau dipertahankan sesuai
asalnya.







terimakasih atas materinya tapi tadk baguss.
BalasHapusheheheheheheh
kidding sayang,,
Terima kasih atas materinya . Bisa Membantu saya .
BalasHapusTerima kasih atas materinya . Bisa Membantu saya dengan membuat tugas FILSAFAT ILMU
BalasHapusTerima kasih atas materinya . Bisa Membantu saya dengan membuat tugas FILSAFAT ILMU
BalasHapusTerima kasih atas materinya . Bisa Membantu saya .
BalasHapusTerima kasih atas materinya . Bisa Membantu saya dengan membuat tugas FILSAFAT ILMU
BalasHapussangat bermanfaat materinya :)
BalasHapusgood luck (y)
di tunggu materi selanjutnya :D
I like materinya, sngat membantu
BalasHapus