Manajemen Pendidikan Manajemen Pendidikan Manajemen Pendidikan Manajemen Pendidikan Manajemen Pendidikan Selamat Datang di Blog Sintyawati Kaaba dan Nelpiyanti Hulopi

Blogger templates

 photo xd_zpssnzqam6w.jpg

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

 photo sintya amp nelphy_zpsfcq0s2uy.jpg

Sintyawati Kaaba dan Nelpiyanti Hulopi

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

 photo 20150420_152418_zpszuw6w0xg.jpg

Kelas C MP

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

 photo a2ed2728-0802-45a5-a013-78c77ae10e98_zpsz2h9ejn6.jpg

HMJ 2015

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

 photo fc5ffc7d-9a67-41b9-831c-c3e6468032c9_zpsrdwcuo94.jpg

Kelas C MP 2014

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 29 Desember 2015

PENGELOLAAN KURIKULUM 2013



PENGELOLAAN KURIKULUM 2013
A.   PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan di Negara Indonesia saat ini masih mengalami berbagai macam persoalan. Persoalan tersebut tidak mudah diselesaikan, karena substansi yang ditransformasikan selama proses pendidikan dan pembelajaran selalu berada di bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan masyarakat. Salah satu persoalan pendidikan kita yang masih menonjol saat ini adalah adanya kurikulum yang mengalami pergantian dari tahun ke tahun dan membebani peserta didik tanpa ada arah pengembangan yang benar-benar diimplementasikan sesuai dengan perubahan yang diinginkan pada kurikulum tersebut.
Kurikulum ialah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Menurut PP nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk  mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Semakin maju peradaban suatu bangsa, maka semakin berat pula tantangan yang dihadapinya. Persaingan ilmu pengetahuan semakin gencar dilakukan oleh dunia internasional, sehingga Indonesia juga dituntut untuk dapat bersaing secara global demi mengangkat martabat bangsa. Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan yang akan menimpa dunia pendidikan kita, ketegasan kurikulum dan implementasinya sangat dibutuhkan untuk membenahi kinerja pendidikan yang jauh tertinggal dengan negara-negara maju di dunia. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu komponen dalam pengembangan sumber daya manusia di sekolah. Di Indonesia tujuan kurikulum tertera pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar.
Kurikulum yang terdiri atas berbagai komponen yang satu dengan yang lain saling terkait adalah merupakan satu sistem. Ini berarti bahwa setiap komponen yang saling terkait tersebut hanya mempunyai satu tujuan, yaitu tujuan pendidikan yang juga menjadi tujuan kurikulum. UU NO 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional Bab X Pasal 36 Ayat 1 menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Akibat dari berbagai perkembangan, terutama perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi, konsep kurikulum selanjutnya juga menerobos pada dimensi waktu dan tempat. Artinya kurikulum mengambil bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar tidak hanya terbatas pada waktu sekarang saja, tetapi juga memperhatikan bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar pada waktu lampau dan yang akan datang.
Demikian pula tidak hanya mengambil berbagai bahan ajar setempat (local). Kemudian berbentuk kurikulum muatan lokal tetapi juga berbagai bahan ajar yang bersifat nasional, yang kemudian berbentuk kurikulum nasional (kurnas) dan lebih luas lagi bersifat internasional atau yang bersifat global. Kurikulum muatan lokal pada hakikatnya merupakan suatu perwujudan Pasal 38 ayat I Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang berbunyi, “ Pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan didasarkan atas kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum yang disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan dan ciri khas satuan pendidikan. Sebagai tindak lanjut hal tersebut, muatan lokal telah dijadikan strategi pokok untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan lokal dan sejauh mungkin mengakibatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Dengan kurikulum muatan lokal setiap sekolah diharapkan mampu mengembangkan program pendidikan tertentu yang sesuai dengan keadaan dan tuntutan lingkungannya.
Dengan demikian kurikulum itu merupakan program pendidikan bukan program pengajaran, yaitu program yang direncanakan diprogramkan dan dirancangkan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Berbagai bahan tersebut direncanakan secara sistematik artinya direncanakan dengan memperhatikan keterlibatan berbagai faktor pendidikan secara harmonis.  Berbagai bahan ajar yang dirancang tersebut harus sesuai dengan norma-norma yang belaku sekarang, diantaranya harus sesuai dengan pancasila, UUD 1945, GBHN UU DIKNAS, PP No. 27 dan 30, adat istiadat dan sebagainya. Program tersebut akan dijadikan pedoman bagi tenaga pendidik maupun peserta didik dalam pelaksanaan proses pembelajaran agar dapat mencapai cita-cita yang diharapkan sesuai dengan yang tertera pada tujuan pendidikan. Implementasi kurikulum membicarakan seberapa jauh kurikulum dapat dilaksanakan. Oleh karena itu yang perlu dipantau adalah proses pelaksanaannya, evaluasinya. Selanjutnya atas dasar hasil evaluasi perlu tidaknya kurikulum direvisi untuk penyempurnaan. Kurikulum 2013 itu adalah usaha yang terpadu antara (1) rekontruksi kompetensi lulusan, dengan (2) kesesuaian & kecukupan, kelulusan & kedalaman materi, (3) revolusi pembelajaran dan (4) reformasi penilaian.
Adanya perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi kurikulum 2013 adalah merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya bangsa, karena titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan.
B.   PERMASALAHAN
            Bentuk permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut:
a.       Bagaimana bentuk penerapan kurikulum 2013 di Sekolah Menengah Kejuruan?
b.      Bagaimana pengaruh kurikulum terhadap Output Sekolah?
C.   REALITA DI LAPANGAN
Dalam pelaksanaannya pengembangan kurikulum harus disesuikan dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut. Suatu lembaga pendidikan harus mampu merancang dan mengelolah kurikulum berdasarkan kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Sekolah harus memahami secara jelas ruang lingkup kurikulum yakni mulai dari perencanaan, pelaksanaan kurikulum, pengawasan pelaksanaan kurikulum, pemantauan dan penilain kurikulum hingga perbaikan kurikulum.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 70 tahun 2013 tentang Kerangka dasar dan struktur kurikulum SMK Struktur kurikulum, yang ada di SMK N 3 GORONTALO sudah memuat kompetensi inti mata pelajaran beban belajar dan kompetensi dasar. Kompetensi inti yang ada disekolah mengacu pada sikap spiritual, sikap social , pengetahuan dan keterampilan yang dimasing-masing kelas memuat kompetensi inti tersebut. Berbicara mengenai mata pelajaran di SMK tentunya berbeda dengan yang ada disekolah SMA karena dilihat dari kemasan substansi untuk mata pelajaran kejuruan yang berbeda.
Pada SMK mata pelajaran dibagi atas kelompok mata pelajaran Dasar Bidang Keahlian, kelompok mata pelajaran dasar program keahlian, kelompok mata pelajaran Paket Keahlian. Khusus untuk kelompok Mata Pelajaran dasar Program Keahlian dan Paket Keahlian ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia usaha dan industri.
D.   ANALISIS SWOT
Kekuatan (Strenght)
Kelemahan (Weakness)
Lebih mengarah atau pembentukan karakter siswa secara utuh. Dia bisa dikatakan lulus bukan hanya dilihat dari aspek pengetahuan saja tapi juga dipengaruhi oleh sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Banyak sekali guru-guru yang belum siap secara mental dengan kurikulum 2013 ini, karena kurikulum ini menuntut guru lebih kreatif, pada kenyataannya sangat sedikit para guru yang seperti itu, sehingga membutuhkan waktu yang panjang agar bisa membuka pola pikir guru, dan salah satunya dengan pelatihan-pelatihan dan pendidikan agar merubah paradigma guru sebagai pemberi materi menjadi guru yang dapat memotivasi siswa agar kreatif.
Peluang (Oportunity)
Tantangan (Treat)
Tuntutan terhadap mutu pendidikan tersebut menjadi syarat terpenting untuk dapat menjawab tantangan perubahan dan perkembangan. Hal itu diperlukan untuk mendukung terwujudnya manusia Indonesia yang cerdas dan berkehidupan yang damai,terbuka, dan berdemokrasi, serta mampu bersaing secara terbuka di era global.
Untuk itu, pembenahan dan penyempurnaan kinerja pendidikan menjadi hal pokok, terutama terhadap aspek substantif yang mendukungnya yaitu kurikulum sehingga mendorong untuk dilakukannya perancangan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan.
Tantangan bagi terlaksananya kurikulum 2013 adalah masalah implementasi.  Perencanaan yang baik belum tentu akan menghasilkan produk yang baik. Hal tersebut tergantung pada implementasi, dimana harus ada dukungan dari semua pihak. Sehingga harapan agar perubahan kurikulum 2013 benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.
Pelaksanaan Kurikulum 2013 merupakan Tantangan dan bagian dari upaya perbaikan kondisi pendidikan di Indonesia, dan kurikulum 2013 ini di harapkan akan mampu menjadi pedoman pendidikan di tanah air. Disadari bahwa guru merupakan kunci utama keberhasilan proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, harapan keberhasilan pendidikan sering dibebankan pada guru. Salah satu hal mendasar yang penting disikapi oleh guru adalah kesiapan mental terhadap perubahan perubahan kurikulum.

E.   TEMUAN
            Berdasarkan hasil temuan wawancara yang penulis lakukan bersama pengelola Kurikulum disekolah tersebut, penulis memperoleh temuan bahwa dalam Kurikulum 2013 proses pembelajaran berorientasi pada siswa, guru hanya sebagai fasilitator hal ini senada dengan pengimplementasian kurikulum 2013 yang lebih mengarah pada pembentukan karakter siswa seutuhnya selain itu proses pembelajaran menggunakan Problem Base Learning, Discovery Learning, & Project Base Learning. Problem Base Learning (Model Pembelajaran berbasis Masalah) merupakan sistem pembelajaran yang memadukan 3 aspek yakni pengetahuan, kecakapan dan sikap untuk penilaian terhadap penguasaan pengetahuan mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan Ujian Akhir Sekolah, Mid Semester, Kuis, PR, Laporan Prakerin dan Sebagainya. Selain itu untuk Penilaian terhadap kecakapan diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran (Media Pembelajaran) baik software maupun hardware sedangkan penilaian terhadap sikap
dititik beratkan pada penguasaan soft skill peserta didik. Discovery Learning (Model Pembelajaran berbasis Penemuan), guru berperan hanya sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan pada peserta didik untuk belajar secara aktif dalam arti guru hanya mengarahkan siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Project Base Learning (Model Pembelajaran Berbasis Proyek), Proses pembelajaran terlaksana dengan menggunakan suatu project (kegiatan) sebagai inti pembelajaran artinya siswa melakukan eksplorasi untuk memperoleh hasil belajar sehingganya siswa menjadi lebih aktif dan interaktif dalam mengembangkan kemampuan berpikir.
            Berbicara mengenai pengimplementasian kurikulum 2013 di Sekolah Menengah Kejuruan belum begitu terlihat karena guru dan siswa masih dalam tahap penyesuaian terutama siswa yang masih terbiasa dengan pola pembelajaran Kurikulum sebelumnya. Selain itu banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan peserta didik misalnya lingkungan sekolah yang bisa dikatakan masih sangat mudah dipengaruhi.
            Sesuai Temuan yang saya dapatkan perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP di SMK N 3 Gorontalo, dimana Pada penilaian kurikulum 2013 mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan, juga terdapat pendekatan-pendekatan proses pembelajaran serta pada kurikulum 2013 siswa lebih aktif dan guru hanya sebagai fasilitator, Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit disbanding KTSP, Pramuka menjadi ekstrakulikuler wajib dan lain-lain. Pada penilaian KTSP lebih menekankan pada aspek pengetahuan, Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013, Pramuka bukan ekstrakulikuler wajib dan lain-lain.
            Di SMK N 3 Gorontalo sudah dituntut atau sudah ti tunjung Pemerintah bahwa di SMK N 3 Gorontalo harus menggunakan Kurikulum 2013 karena mengikuti ketetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 160 Tahun 2014 Tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013. Juga di SMK N 3 GORONTALO lebih mewajibkan Ekstrakulikuler Pramuka dan Unit Kesehatan Siswa..
            Pengaplikasian yang konkrit dari kurikulum di SMK N 3 Gorontalo yaitu Dengan bersosialisasi ke guru-guru tentang Kurikulum 2013, Pembuatan RPP dan lainnya sesuai dengan peraturan menteri 104 Tahun 2014 serta proses kenaikan kelas dan penilaian juga sudah diatur, tinggal melaksanakan, tentunya tidak menutup kemungkinan untuk berinovasi sepanjang tidak bertentangan dengan aturan-aturan.
            Pengaruh kurikulum terhadap output SMK N 3 GORONTALO, di karenakan ada aspek sikap pada penilaian. Ini bisa digunakan oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri untuk menentukan proses rekrutmen tenaga kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, bukan hanya berdasarkan pengetahuan dan keterampilan. Berdasarkan UU NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Pasal 39 isi kurikulum yang ada di SMK N 3 GORONTALO sudah sesuai dengan peraturan yang sudah ada di Undang-Undang khususnya yang ada di Undang-undang pasal 39 yang menyebutkan bahwa isi kurikulum itu meliputi: (1) Isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. (2) Isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat : (a) pendidikan Pancasila; (b) pendidikan agama; (c) pendidikan kewarganegaraan. (3) Isi kurikulum pendidikan dasar memuat sekurang-kurangnya bahan kajian dan pelajaran tentang : (a) pendidikan Pancasila; (b) pendidikan agama; (c) pendidikan kewarganegaraan; (d) bahasa Indonesia; (e) membaca dan menulis; (f) matematika (termasuk berhitung); (g) pengantar sains dan teknologi; (h) ilmu bumi; (i) sejarah nasional dan sejarah umum; (j) kerajinan tangan dan kesenian; (k) pendidikan jasmani dan kesehatan; (l) menggambar & bahasa Inggris. (4) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur oleh Menteri.
F.    KESIMPULAN
Berdasarkan hasil temuan yang didapatkan maka disimpulkan bahwa Kurikulum 2013 sudah menerapkan dan dilaksanakan di SMK N 3 GORONTALO.
Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 lebih ditekankan pada penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya hanya menggunakan aspek pengetahuan saja yang diutamakan. Penilaian hasil belajar siswa juga memiliki sistem yang berbeda dengan cara penilaian di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Namun, diharapkan bukan sebagai suatu kendala dalam pengimplementasian kurikulum 2013.
Pengaruh kurikulum terhadap output SMK N 3 GORONTALO, di karenakan ada aspek sikap pada penilaian. Ini bisa digunakan oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri untuk menentukan proses rekrutmen tenaga kerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, bukan hanya berdasarkan pengetahuan dan keterampilan.
G.   SARAN DAN REKOMENDASI
1.      Berdasarkan temuan diatas maka penulis  memberikan saran yaitu kurikulum 2013 masih perlu ditinjau ulang dikarenakan sosialisasinya masih dapat dibilang sangat nihil dilakukan oleh pemerintah. Juga banyak sekali opini public yang kontra terhadap kurikulum 2013 ini.  Negeri kita sangat luas dan dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Oleh karena itu rasanya tidak adil kalau hanya melakukan sosialisasi di daerah perkotaan semata. Bagaimana dengan daerah pesisir pantai, pedalaman kampung, dan masih banyak lagi daerah terpencil yang tidak terjangkau yang secara harpiah belum tentu siap dengan perubahan kurikulum yang demikian itu.
2.      Penulis merekomendasi untuk pihak sekolah memberikan pelatihan kepada seluruh tenaga pendidik yang ada disekolah mengenai pengimplementasian kurikulum 2013 agar pada proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.


H.   DAFTAR PUSTAKA
Dakir, 2004 . Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: PT Rineka Citra
GBHN UU DIKNAS, PP No. 27 dan 30, Tentang adat istiadat dan sebagainya.
Mulyasa, 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Bab 1 Pasal 1 tentang Kurikulum
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
PP nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan No 70 tahun 2013 tentang Kerangka dasar dan struktur kurikulum SMK Struktur kurikulum,

Kamis, 17 Desember 2015

Sekilas tentang Manajemen Pendidikan


Sekilas tentang Manajemen Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Gorontalo

Jika berbicara mengenai Manajemen Pendidikan tentunya tidak lepas dari POAC yaitu Planning, Organization, Actuating, & Controlling. Disini kita tidak akan membahas tentang manajemen tetapi lebih khusus ke jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo. Kita ketahui jika mahasiswa yang berasal dari jurusan Manajemen Pendidikan mereka tahu Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan adalah Dr. Arifin Suking, M. Pd, dan Sekertaris Jurusan Dr. Novyanti Djafri, S. Pd.I , M. Pd. I. Kajur dan Sekjur di lantik pada tgl 17 November 2015. 

Inilah Info terkini untuk Jurusan Manajemen Pendidikan

Visi Misi dan Tujuan Jurusan Manajemen Pendidikan :

VISI, MISI DAN TUJUAN SERTA SASARAN DAN STRATEGI PENCAPAIAN JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN

VISI
Pada Tahun 2025 Program Studi Administrasi/Manajemen Pendidikan
“Menjadi Pusat Pengembangan Keilmuan Yang  Menghasilkan Lulusan Berkarakter Tangguh, Inovatif Dan Kompetitif Yang Diakui Secara Global”
MISI

  1. Menyelenggarakan pendidikan profesional di bidang Administrasi /Manajemen Pendidikan yang berkualitas guna menghasilkan lulusan berkarakter tangguh, inovatif dan kompetitif dan diakui secara nasional dan internasional.
  2. Mengembangkan Ilmu Manajemen Pendidikan melalui kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat guna mendukung pendidikan dan kemajuan ilmu manajemen pendidikan.
  3. Menjalin dan mengembangkan jaringan kerja sama dan kemitraan dengan perguruan tinggi dan intansi terkait baik dalam negeri maupun luar negeri.
  4. Menjalin dan mengembangkan jaringan kerja sama dan kemitraan dengan Perguruan Tinggi dan instansi terkait baik dalam negeri maupun luar negeri.
TUJUAN
1.       Meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan yang memiliki keahlian berstandar nasional dan internasional sesuai kebutuhan pengguna lulusan.
2.       Meningkatkan daya saing dan aksepabilitas hasil penelitian,pengabdian dan karya ilmiah dosen pada jurnal terakreditasi nasional dan internasional.
3.       Meningkatkan mutu pembelajaran di program studi Administrasi/Manajemen pendidikan untuk pem-bangunan budaya mutu perguruan tinggi.
4.  Meningkatkan dan memperluas kerja sama pendidikan, penelitian dan pengabdian dengan lembaga pada tingkat lokal, nasional dan internasional.

SASARAN DAN STRATEGI PENCAPAIAN
1.       Lulusan/alumni, strategi :
·      Inovasi kurikulum menuju Kurikulum Berbasis KKNI dan life skil serta soft skill secara efektif dan efisien untuk memenuhi tuntutan profesi dan lapangan kerja
·      Meningkatkan kegiatan akademik berbasis karakter yang inovatif, tangguh dan kompetitif
·      Pengembangkan sistem pembelajaran terintegrasi pada e-learning di perkuliahan
·      Meningkatkan daya serap lulusan manajemen pendidikan di pasar kerja
·      Melaksanakan pembinaan mahasiswa berbasis karakter dan sinergitas penguatan hard skill dan soft skill.
·      Mengembangkan laboratorium administrasi pendidikan berstandar  nasional dan internasional berbasis penelitian dan pembelajaran berbasis IT.
·      Mendorong internasionalisasi program studi (go international).
·      Pelatihan pengembangan kapasitas profesi Administrasi/Manajemen Pendidikan
·     Melaksanakan silaturrahim mahasiswa dengan dosen yang dirangkaikan dengan kegiatan bakti sosial dan out bound.
2.       Dosen/Staf Akademik, strategi:
·  Menyebarluaskan hasil temuan penelitian dosen dan mahasiswa menjadi inovasi-inovasi praktik manajemen pendidikan di lembaga kependidikan.
·      Meningkatkan budaya berprestasi (achivement-motivation) bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian.
·     Melaksanakan kegiatan ilmiah manajemen pendidikan (workshop, seminar, lokakarya) lokal, nasional dan internasional.
·   Mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual dosen dan mahasiswa melalui kajian-kajian religius/dakwah islamiyah, baik secara mandiri maupun kerjasama dengan instansi terkait.
·      Optimalisasi peran dosen dan penasehat akademik (PA) dalam pembimbingan mahasiswa dan pembimbing magang dan PKL.
·     Mengupayakan terbukanya sumber-sumber pendanaan tambahan baru baik melalui kerja sama layanan ahli, produk-produk inovatif, dan sumber generating revenue lainnya.
·      Melibatkan mahasiswa dalam penelitian dosen secara kolaboratif.

3.       Dosen/Staf Akademik dan mahasiswa, strategi:
·   Mengembangkan budaya mutu akademik di lingkungan program studi Manajemen Pendidikan.
·  Mengembangkan kultur akademik dan inovasi kurikulum berbasis kebutuhan dan keunggulan di program studi manajemen pendidikan.
·  Meningkatkan penulisan karya ilmiah dosen dan mahasiswa (buku, jurnal/ artikel, proseding) pada bidang manajemen pendidikan.
· Pelatihan penulisan artikel ilmiah yang dapat dipublikasikan melalui jurnal manajemen pendidikan dan jurnal lainnya yang terakreditasi baik skala regional, nasional dan internasional bagi dosen.
·      Membentuk pusat kajian manajemen pendidikan ditingkat program studi.
·      Mengembangkan ruang kuliah dan perpustakaan berbasis IT.
·    Evaluasi diri secara ber-kesinambungan guna pengembangan program-program yang dinilai strategis dan dapat mendukung keberlanjutan pengembangan program studi.
· Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana pendukung akademik sebagai media pembelajaran,

4.    Internal target: Universitas, Fakultas, Dosen, mahasiswa dan Eksternal target: Universitas di dalam luar negeri, lembaga pendidikan dalam dan luar negeri, Alumni, Organisasi profesi, sekolah. Strategi:
·   Melaksanakan pendampingan dan pembinaan (fostering) sekolah dengan model manajemen berbasis sekolah.
·      Meningkatkan joint research pada tingkat nasional dan internasional.
·      Mengupayakan sekolah binaan sebagai sekolah unggulan (exellence school).
·  Meningkatkan pemahaman pengguna lulusan tentang kualifikasi dan kompetensi lulusan manajemen pendidikan.
·   Temu kolegial alumni Program Studi Manajemen Pendidikan secara lebih intensif dan melaksanakan program kerja organisasi alumni.
·      Mengembangkan kerja sama pelatihan supervisi dan penulisan karya ilmiah bagi guru pada jenjang SD, SLTP dan SLTA
·    Mempererat kerja sama simetrikal dengan pemerintah daerah, instansi-instansi terkait terutama lembaga/institusi pendidikan baik dalam maupun luar negeri berdasarkan azas kemitraan dan saling menguntungkan dalam rangka penerapan MBS, penyaluran lulusan, pembinaan minat bakat, karir mahasiswa, dan penguatan program studi dalam mengghadapi tantangan di era global.
·      Sosialisasi peranan Program Studi Administrasi/Manajemen Pendidikan kepada masyarakat terutama kepada pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan Nasional berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintah dibidang manajemen pendidikan.

Inilah Susunan Nama-Nama Dosen di Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo :
1. Prof. Dr. H. Abdul Kadim Masaong, M. Pd
2. Prof. Dr. Ansar Made, M. Si
3. Dr. Arifin Suking, M.Pd
4. Dr. Arwildayanto, M. Pd
5. Dr. Novianty Djafri, M. Pd. I
6. Dr. Fadliah, M. Si
7. Dr. Sitti Roskina Mas, M. Pd
8. Dr. Phil. Ikhfan Haris, M. Ec
9. Dr. Asrin M. Pd
10. Dr. Hj. Nina Lamatenggo, M. Pd
11. Dr. Hj. Fory Armin Nawai, M.Pd
12. Drs. Mohammad Polinggapo, S.Sos, M. Pd
13. Intan Abdul Razak, S. Ag, M. Pd
14. Warni T. Sumar, M. Pd
15. Besse Marhawati, M. Pd
16. Arifin, M. Pd
17. Zulystiawati, S.S M. Ed

Kamis, 10 Desember 2015

ONTOLOGI ILMU



ONTOLOGI ILMU
A.    PENDAHULUAN
Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
            Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia, seperti batua-batuan, binatang, tumbuhan, atau manusia itu sendiri; berbagai gejala dan peristiwa yang mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi terhadap dunia empiris. Pengetahuan keilmuan mengenai obyek-obyek empiris ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan. Penyederhanaan ini perlu, sebab kejadian alam yang sesungguhnya begitu kompleks, dengan sampel dari berbagai faktor yang terlibat di dalamnya. Ilmu tidak bermaksud “memotret” atau “memproduksikan” suatu kejadian tertentu dan mengabstraksikan dalam bahasa keilmua. Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris.
            Ontologi merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang menetapkan batas lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada (Being), baik berupa wujud fisik (al-Thobi’ah) maupun metafisik (ma ba’da al-Thobi’ah) selain itu Ontologi merupakan hakikat ilmu itu sendiri dan apa hakikat kebenaran serta kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah tidak terlepas dari persepektif filsafat tentang apa yang dikaji atau hakikat realitas yang ada yang memiliki sifat universal.
B.     STANDAR KOMPETENSI
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa di harapkan mampu memahami tentang Aksiologi Ilmu

C.    KOMPETENSI DASAR
·         Kemampuan untuk memahami pengertian ontologi
·         Kemampuan untuk memahami asumsi-asumsi ilmu
·         Kemampuan untuk mengetahui apa saja yang terdapat dalam objek formal
·         Kemampun untuk mengetahui metode-metode dalam ontology
·         Kemampuan untuk memahami konsep ontologi dalam filsafat
D.    TUJUAN PEMBELAJARAN
Adapun tujuan pembelajaran pada bagian ini adalah :
·         Mahasiswa mampu untuk mengetahui pengertian ontology
·         Mahasiswa mampu menjelaskan asumsi-asumsi ilmu
·         Mahasiswa mampu mendeskripsikan apa saja yang terdapat dalam objek formal
·         Mahasiswa mampu menjelaskan metode-metode dalam ontology
·         Mahasiswa mampu mengembangkan konsep ontology dalam filsafat


E.     URAIAN MATERI
1.      PENGERTIAN ONTOLOGI
            Ontologi dalam bahasa Inggris “ontology”; dari bahasa Yunani on, ontos (ada, keberadaan) dan logos (studi, ilmu tentang). Ada beberapa pengertian dasar mengenai apa itu “ontologi”. Pertama, ontologi merupakan studi tentang ciri-ciri “esensial” dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari ‘yang ada’ dalam bentuknya yang sangat abstrak studi tersebut melontarkan pertanyaan seperti “Apa itu Ada dalam dirinya sendiri?”
            Kedua, ontologi juga bisa mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan katagori-katagori seperti : ada/menjadi, aktualitas/potensialitas, esensi, keniscayaan dasar, yang ada sebagai yang ada. Ketiga, ontologi bisa juga merupakan cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat Ada yang terakhir, ini menunjukan bahwa segala hal tergantung padanya bagii eksistensinya. Keempat, Ontologi juga mengandung pengertian sebagai cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan, apa arti Ada dan Berada dan juga menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat dikatakan Ada.Kelima, Ontologi bisa juga mengandung pengertian sebuah cabang filsafat a) menyelidiki status realitas suatu hal misalnya “apakah objek pencerapan atau persepsi kita nyata atau bersifat ilusif (menipu)? “apakah bilangan itu nyata?” “apakah pikiran itu nyata?” b) menyelidiki apakah jenis realitas yang dimiliki hal-hal (misalnya, “Apa jenis realitas yang dimiliki bilangan? Persepsi? Pikiran “ dan c) yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut realitas. Dari beberapa pengertian dasar tersebut bisa disimpulkan bahwa ontologi mengandung pengertian “pengetahuan tentang yang ada”.
            Istilah ontologi muncul sekitar pertengahan abad ke-17. Pada waktu itu ungkapan filsafat mengenai yang ada (philosophia entis) digunakan untuk hall yang sama. Menurut akar kata Yunani, ontologi berarti ‘teori mengenai ada yang berada’. Oleh sebab itu, orang bisa menggunakan ontologi dengan filsafat pertama Aristoteles, yang kemudian disebut sebagai metafisika. Namun pada kenyataannya, ontologi hanya merupakan bagian pertama metafisika, yakni teori mengenai yang ada, yang berada secara terbatas sebagaimana adanya dan apa yang secara hakiki dan secara langsung termasuk ada tersebut.
Beberapa ahli filsafat memang banyak hal mempunyai pengertian yang berbeda satu sama lain. Namun jika ditarik dalam garis benang yang saling berkaitan maka ada beberapa hubungan yang hampir sama bahwa ontologi adalah ilmu tentang yang ada sebagai bagian cabang filsafat yang sama. Baumgarten mendefinisikan ontologi sebagai studi tentang predikat-predikat yang paling umum atau abstrak dari semua hal pada umumnya. Ia sering menggunakan istilah “metafisika universal” dan ”filsafat pertama” sebagai sinonim ontologi. Heidegger memahami ontologi sebagai analisis konstitusi “ yang ada dari eksistensi”, ontologi menemukan keterbatasan eksistensi, dan bertujuan menemukan apa yang memungkinkan eksistensi.
            Ontologi merupakan ‘ilmu pengetahuan’ yang paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi segala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat ‘bagian’. Ia merupakan konteks untuk semua konteks lainnya, cakrawala yang merangkum semua cakrawala lainnya, pendirian yang meliputi segala pendirian lainnya. Sebagai tugasnya memang ‘ontologi’ selalu mengajukan pertanyaan tentang bagaimana proses ‘mengada’ ini muncul. Pertanyaannya selalu berangkat dari situasi kongkrit. Dengan demikian ontologi menanyakan sesuatu yang tidakserba tidak terkenal. Andaikata memang sesuatu tidak terkenal maka mustahil pernah akan dapat ditanyakan. Dalam ruang kerjanya ‘ontologi’ bergerak di antara dua kutub, yaitu antara pengalaman akan kenyataan kongkrit dan prapengertian ‘mengada’ yang paling umum. Dalam refleksi ontologis kedua kutub ini saling menjelaskan. Pengalaman tentang kenyataan akan semakin disadari dieksplisitkan arti dan hakikat ‘mengada’. Sebaliknya juga, prapemahaman tentang cakrawala ‘mengada’ akan semakin menyoroti pengalaman kongkrit dan membuatnya terpahami sungguh-sungguh.
2.      ASUMSI-ASUMSI ILMU
            Objek telah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
3.      OBJEK FORMAL
            Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.
4.      METODE DALAM ONTOLOGI
            Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.   Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik.
            Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Ontologi menurut Anton Bakker (1992) merupakan ilmu pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh. Penyelidikannya meliputi gejala pertanyaan dan penelitian lainnya yang lebih bersifat bagian. Ontologi berusaha memahami keseluruhan kenyataan, segala sesuatu yang mengada segenapnya. Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu.
            Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1)      Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2)      Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
3)      Batas-batas Penjelajahan Ilmu Dasar ontologi ilmu sebenarnya ingin berbicara pada sebuah pertanyaan dasar yaitu : apakah yang ingin diketahui ilmu ? Atau bisa dirumuskan secara eksplisit menjadi : apakah yang menjadi bidang telaah ilmu ? Berbeda dengan agama atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada bkejadian yang bersifat empiris.
             Secara sederhana objek kajian ilmu ada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pacaindera manusia. Dalam batas-batas tersebut maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan, binatang, tumbuh-tumbuhan , hewan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu maka ilmu ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang berbeda di luar jangkaun manusia tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut.
Untuk mendapatkan pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek-objek empiris. Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang dikemukakannya. Secara lebih terperinsi ilmu mempunyai tiga asumsi yang dasar. Asumsi pertama, menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Asumsi kedua, ilmu menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu.            Asumsi ketiga, ilmu menganggap bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan kejadian yang sama. Dalam penegartian ini ilmu mempunyai sifat deterministik. Namunpun demikian dalam determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik). Karakteristik FilsafatIlmu sebagai salah satu bidang dalam filsafat, di abad modern ini memang mendapat tempat dan porsi terbesar, Perkembangan ilmu saat ini banyak mendorong terjadinya perubahan-perubahan peradaban, Abad modern memang sangat didorong oleh kemunculan rasionalitas ilmu sebagai dasar dominan rasionalitas modern. Ilmu sebagai sebuah konsep memang mengandung pengertian yang cukup komplek. Ilmu dalam bahasa inggris ‘science’, dari bahasa Latin ‘scientia’ (pengetahuan). Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah ‘ episteme’. Pada prinsipnya ‘ilmu’ merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu sosial dan ilmu alam , karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi ‘filsafat ilmu alam’ dan filsafat ilmu sosial’.
            Karakteristik ilmu yang paling kentara adalah bahwa cara kerjanya ditentukan oleh sebuah metode. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Tekanan ilmu terletak pada bagaimana sebuah metode dibangun. Ilmu yang dalam perkembangannya memakai metode ilmiah di dalam hukum-hukumnya mempunyai bahasa-bahasa ilmiah yang berbeda dengan bahasa keseharian yang lain. Karakteristik yang nampak dalam bahasa ini adalah bahwa bahasa ilmiah selalu menekankan unsur “bebas nilai”. Karakteristik yang kedua adalah bahwa bahasa ilmu sifatnya tertutup dan memakai cara kerja sistem sendiri. Ada banyak model dan cara kerja ilmu yagn berkembang sesuai dengan perkembangan filsafat manusia. Jika kita lihat di sana akan ditemukan pengertian-pengertian Rasionalisme, Empirisme, Positivisme, Rasionalitas Kritis, Konstruktivisme. Masing-masing mempunyai metodologi yang khas tetapi masih dalam kesatuan ciri khas kerja sebuah ilmu. Filsafat ilmu pada prinsipnya bertugas meneliti dan menggali sebab-musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan, di antaranya paham tentang kepastian, kebenaran dan objektivitas. Cara kerja filsafat ilmu pengetahuan pada prinsipnya adalah sebuah penelitian tentang apa yang memungkinkan ilmu-ilmu tersebut terjadi dan berkembang.
            Batas-batas Kerja Ilmu Jika kita mempertanyakan apa batas kerja ilmu atau batas penjelajahan ilmu maka bisa dijelaskan bahwa ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari sesuatu yang bukan dari pengalaman manusia, maka ilmu tidak bekerja di luar batas kerjanya seperti keyakinan surga dan neraka. Pada prinsipnya ilmu sendiri dalam kehidupan manusia sebagai alat pembantu untuk bisa membongkar berbagai problem manusia dalam batas pengalamannya Ilmu membatasi lingkup penjelajahan pada batas pengalaman manusia. Metode yang dipergunakan dalam menyusun ilmu telah teruji kebenarannya secara empiris. Dalam perkembangannya kemudian maka muncul banyak cabang ilmu yang diakibatkan karena proses kemajuan dan penjelajahan ilmu yang tidak pernah berhenti. Dari sinilah kemudian lahir konsep “kemajuan” dan “modernisme” sebagai anak kandung dari cara kerja berpikir keilmuan.
Ahli ontologi menggunakan beberapa pertanyaan mendasar tentang keberadaan sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang paling ideal. Pertanyaan-pertanyaan utama dalam ontologi adalah:
·         Atas dasar apakah ”sesuatu” itu dikatakan sebagai ”ada”?
·         Jika ”sesuatu” itu dikatakan ”ada”, bagaimana cara mengelompokkannya?
Kedua pertanyaan tersebut telah mendorong dilakukannya upaya untuk membagi entitas-entitas yang melekat pada ”sesuatu” menjadi kelompok atau kategori. Karena jumlah entitas sangat banyak, maka daftar kategori yang dibuat juga beragam. Untuk mempermudah kita menemukan kategori yang diinginkan, kategori-kategori yang ada disusun dan dihubungkan dalam bentuk skema. Aplikasi dari kategorisasi entitas dapat dilihat dalam ilmu perpustakaan dan IT. Pengembangan dari dua pertanyaan mendasar dalam ontologi telah mendorong ahli filsafat untuk berpikir lebih keras dan memacu perkembangan ontologi dan aplikasinya dalam berbagai bidang. Berikut ini adalah beberapa contoh pertanyaan dalam ontologi:
v  Apa yang dimaksud dengan ”ada”?
v  Apakah ”ada” memiliki sesuatu atau properti?
v  Jika ”sesuatu” tersusun atas entitas, maka entitas manakah yang fundamental?
v  Bagaimana properti dari sebuah obyek dapat berhubungan dengan obyek tersebut?
v  Apa ciri yang paling penting dari sebuah obyek?
v  Jika ”ada” memiliki tingkatan (level), berapa jumlah level yang dimiliki oleh sebuah ”ada”?
v  Apa yang dimaksud dengan obyek fisik?
v  Apakah bukti yang dapat menyatakan bahwa suatu obyek fisik itu dikatakan sebagai ”ada”?
v  Apakah bukti yang dapat menyatakan bahwa suatu obyek fisik memiliki entitas atau unsur non-fisik?

5.      Konsep ontology
            Konsep-konsep yang berkembang dalam ontologi dapat dirangkum menjadi 5 konsep utama, yaitu:
a. Umum dan tertentu
b. Kesengajaan (substance) dan ketidaksengajaan (accident)
c. Abstrak dan kongkrit
d. Esensi dan eksistensi
e. Determinisme dan indeterminisme
1)      Umum (universal) dan Tertentu (particular)
            Umum (universal) adalah sesuatu yang pada umumnya dimiliki oleh sesuatu, misalnya: karakteristik dan kualitas. “Umum” dapat dipisahkan atau disederhanakan melalui cara-cara tertentu. Sebagai contoh, ada dua buah kursi yang masing-masing berwarna hijau, maka kedua kursi ini berbagi kualitas ”berwarna hijau” atau ”menjadi hijau”. Tertentu (particular) adalah entitas nyata yang terdapat pada ruang dan waktu. Contohnya, Socrates (guru dari Plato) adalah tertentu (particular), seseorang tidak dapat membuat tiruan atau kloning dari Socrates tanpa menambahkan sesuatu yang baru pada tiruannya.
2)      Substansi (substance) dan Ikutan (accident)
            Substansi adalah petunjuk yang dapat menggambarkan sebuah obyek, atau properti yang melekat secara tetap pada sebuah obyek. Jika tanpa properti tersebut, maka obyek tidak ada lagi. Ikutan (accident) dalam filsafat adalah atribut yang mungkin atau tidak mungkin dimiliki oleh sebuah obyek. Menurut Aristoteles, ”ikutan” adalah kualitas yang dapat digambarkan dari sebuah obyek. Misalnya: warna, tekstur, ukuran, bentuk dsb.
3)      Abstrak dan Kongkrit
            Abstrak adalah obyek yang ”tidak ada” dalam ruang dan waktu tertentu, tetapi ”ada” pada sesuatu yang tertentu, contohnya: ide, permainan tenis (permainan adalah abstrak, sedang pemain tenis adalah kongkrit). Kongkrit adalah obyek yang ”ada” pada ruang tertentu dan mempunyai orientasi untuk waktu tertentu. Misalnya: awan, badan manusia.
4)      Esensi dan eksistensi
Esensi adalah adalah atribut atau beberapa atribut yang menjadi dasar keberadaan sebuah obyek. Atribut tersebut merupakan penguat dari obyek, jika atribut hilang maka obyek akan kehilangan identitas. Eksistensi (existere: tampak, muncul. Bahasa Latin) adalah kenyataan akan adanya suatu obyek yang dapat dirasakan oleh indera.
5)      Determinisme dan indeterminisme
            Determinisme adalah pandangan bahwa setiap kejadian (termasuk perilaku manusia, pengambilan keputusan dan tindakan) adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian kejadian-kejadian sebelumnya. Indeterminisme merupakan perlawanan terhadap determinisme. Para penganut indeterinisme mengatakan bahwa tidak semua kejadian merupakan rangkaian dari kejadian masa lalu, tetapi ada faktor kesempatan (chance) dan kegigihan (necessity). Kesempatan (chance) merupakan faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan, sedangkan kegigihan (necessity) dapat membuat sesuatu itu akan berubah atau dipertahankan sesuai asalnya.